Beberapa tahun lalu saya pernah menempati studio apartment di Athens, GA, seorang diri untuk jangka waktu 6 bulan. Namanya juga tinggal 6 bulan karena hanya tinggal menyelesaikan thesis saja, maka perlengkapan makan dan masak betul-betul hanya untuk kebutuhan pribadi (plus untuk mengundang satu orang saja). Jadi teringat, ada teman pernah berkunjung dan ingin membuat teh sendiri. Saat mencari gula di lemari, Ia berkomentar bahwa dari semua isi kaleng yang ada di situ, tak satupun sesuai dengan judul kalengnya. Ia menemukan gula di dalam kaleng mantan biskuit. Saya memang tak pernah membeli tempat khusus untuk gula, kopi, dan bumbu-bumbu. Hanya memanfaatkan mantan-mantan wadah saja. Sayang dibuang….. hemat pula.

Barangkali ini memang suatu kebiasaan yang diturunkan. Dari mulai ibu saya hingga keponakan boleh dibilang kolektor (nyusuh…. :P). Semua barang dikumpulkan. Mantan kotak makanan, wadah makanan take-away, wadah es krim, hingga pita penghias bingkisan lebaran, kertas bungkus kado…. semuanyaaaaaa…. mantan. Semuanya dicuci (kalau bisa dicuci), dibersihkan, dipak atau disimpan baik-baik untuk suatu saat digunakan kembali… re-use gitu loh. Kalau buat keponakan, tentu saja para mantan koleksinya berubah menjadi bahan mainan baru.

Jaman belajaran di SD dulu, saya masih menggunakan selimut kain perca buatan Oma hingga masa habis berlakunya alias sudah robek-robek. Kakakku membuat boneka Raggedy Ann-nya juga dari sisa-sisa kain. Di jaman yang sama pula, tiap kali prakarya saya juga menggunakan mantan-mantan pula untuk berkreasi. Mantan botol obat dengan tambahan tempelan bubur kertas pernah berubah menjadi tempat lilin bentuk orang. Mantan kotak kuning keemasan (entah mantan apa….lupa) saya relakan jadi tempat tidur boneka. Bonekanya saya buat dari buah kapuk randu kering (yang saya ambil dari perjalanan mudik ke Jawa Timur) yang diberi pakaian dari kain-kain perca. Bertahun-tahun kemudian, my niece Dila menjuarai lomba kreativitas tempel (yah, semacam itulah) dengan membuat gambar kolase dari bahan-bahan bekas (potongan kertas dsb yang ia kumpulkan sendiri) dan daun-daun kering.

Terhadap makanan pun juga begitu. Tentu saja dengan keterbatasan yang lebih besar karena kemungkinan kadaluarsa. Leftover atau sisa makanan yang masih baik kadang juga berubah bentuk. Recycle alias AGOGO… After godog, goreng…. Contoh paling gampang (terutama mendekati lebaran ini) adalah gulai atau opor menu wajib lebaran. Beberapa hari setelah lebaran, biasanya sudah kurang diminati dan dagingnya pun mulai tercerai berai akibat pemanasan berulang. Jadi, Ibu saya sebagai penguasa dapur mengubahnya dengan menggoreng daging yang tersuwir-suwir itu menjadi semacam abon. Rasa ditanggung oke. Saya sendiri, juga pernah mengubah sisa sup krim menjadi topping Bruschetta. Caranya, tinggal menambahkan mayonnaise, saos tomat, dan saos sambal, aduk rata. Oleskan di potongan roti Perancis yang sudah dioles mentega, tambahkan potongan paprika, sosis, jagung manis, atau apapun yang ada. Panggang dalam oven hingga roti kuning kecoklatan.

Kebiasaan seperti ini juga pasti diturunkan dari oma dan eyang-eyang saya yang dapat diperkirakan bukan karena sadar lingkungan, tetapi karena menerapkan hidup prihatin, saving for the future. Kebiasaan yang tidak jelek dan cukup pas dengan situasi lingkungan saat ini yang semuanya serba berlebih, kelebihan polutan, kelebihan penghuni. So, rasanya gak salah jika menggunakan prinsip nenek-nenek kita yang udah melakukan Re-use, Reduce, and Recycle demi mengurangi kelebihan, minimal sampahnya.

Eid Mubarak and support a healthier and cleaner environment! Support the blog action day!

Powered by ScribeFire.