Ada sedikit cerita tertinggal dari perjalanan ke Canguk di awal Ramadhan ini. Seorang teman yang harus bolak balik Canguk-Kota Agung-Bandar Lampung, bercerita tentang perjalanannya mampir di mess kantor di Kota Agung. Bulan puasa tentunya. Ia tiba di mess tepat di saat buka puasa dan menemukan mess dalam keadaan gelap gulita (mati lampu). Bukan itu saja, begitu melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah… ia mendapatkan beberapa penghuninya (beberapa staf dan seorang mahasiswi) sedang berbuka dengan…. sekantung krupuk (yang katanya hasil beli patungan) dan air putih, ditemani oleh temaramnya sinar sebatang lilin (padahal tersedia generator di mess itu). Gak jauh dari situ, ada nasi bungkus yang tergeletak begitu saja di meja serta sayur pepaya (yang pepayanya sudah hampir matang pula). Meskipun teman ini miris melihatnya, namun yang berbuka puasa santai saja, menikmati buka puasanya sembari tertawa-tawa.

Di Canguk sendiri, kerja lapangan tetap berlangsung meskipun matahari serasa dua kali lebih dekat ke bumi, terutama kalau lagi kerja di areal bekas kebakaran. Usaha melakukan intervensi menu buka puasa yang pertama gagal, gara-gara gak ada satupun termasuk manajernya tau yang namanya blewah (hehe, maap ya Po). Iya, di Lampung ini blewah masih jarang. Di Bandar Lampung kebanyakan masih dijual di supermarket. Sementara selama perjalanan dari Bandar Lampung hingga Way Heni (desa terakhir sebelum masuk Canguk), cuma lihat blewah di pasar Pringsewu. Kali kedua akhirnya berhasil memperkenalkan blewah di Canguk (thanks to pak Manajer). Dan tentu saja dengan supervisi penuh dalam mengolahnya, Alhamdulillah berhasil juga buka puasa pake blewah.

Jadi inget sama acara Empat Matanya Tukul. Ada dua seleb yang cuantik-cuantik diwawancara tentang pengalaman saat berbuka. Pertanyaannya kira2, pernahkan mendapat pengalaman buruk saat berbuka? Kedua seleb ini menjawab, Alhamdulillah selama ini selalu dikaruniai kemudahan saat berbuka. Emang sih, ini seleb yang jelas-jelas diberi kemudahan rezeki.

Beberapa peristiwa ini jadi menggugah pemikiran. Pernahkan kita merasakan buka puasa dalam kondisi yang tidak bersyukur? Rasanya tidak. Puasa di bulan Ramadhan memang dihiasi oleh semaraknya jajanan untuk berbuka mulai dari kolang-kaling, blewah, timun suri, sirup, kurma, kolak, dsb…dsb…dsb. Jadi kadang-kadang timbul demand untuk berbuka dengan cara yang lebih “tepat” (mewah???). Padahal kalo diingat-ingat, jarang juga buka puasa dengan kelengkapan seperti ini pada saat puasa non-Ramadhan. Kadang cukup dengan sebotol aqua, atau segelas air teh, atau kalau lagi di atas KRL ya ditambah dengan sekantung tahu sumedang isi 5 biji seharga Rp. 1000. Rasanya ya tetap sama. Sama bersyukurnya telah menamatkan satu hari berpuasa. Sama bersyukurnya merasakan aliran air minum membasahi mulut dan kerongkongan.

Jadi buka puasa pake apapun bukan suatu comparative studies.. eh maksudnya tak dapat dibandingkan. Meskipun misalnya beberapa hari berikutnya (dari cerita pertama) kantor yang sama di kota yang berbeda bikin acara buka puasa bersama (yang tentu menunya jauh lebih oke). Karena yang dicari bukan dengan apa kita membatalkan puasa tapi dengan bersyukur atas puasa yang kita lewati. Benar begitu?

Powered by ScribeFire.