Tiga tahun di antara pendakian, banjir, dan lumpur ketidakpastian

Welcome home to myself! Tiga tahun punya beberapa alamat rasanya memang terlalu banyak, Depok-Buton-Manchester. Mengurangi satu berarti mengurangi satu beban pula yang harus ditanggung. Ini ringkasan dari jalan-jalan, liburan, kerja, air mata serta kepusingan selama 2005-2007 di Buton.

bertiga2.jpg

2005

Ini bagai kejatuhan durian yang matang puun, dapat kesempatan phd. Tapi ini juga berarti makan duriannya gak semudah yang dibayangkan. Buka kulit duriannya bukannya tanpa usaha. Tahun 2005, adalah tahun pertama kali terjun di pulau Buton, di hutan Lambusango.
Penuh kebingungan. Ada banyak topi, tapi kami tak tahu topi yang mana yang kami harus pakai, topi mana yang berguna. Perjalanan-perjalanan di Lambusango yang penuh usaha, terutama mengatasi diri sendiri yang selama ini mungkin merasa sudah terlalu mapan dan manja oleh situasi. Pendakian di Lawele dengan backpack yang lebih berat dari kekuatan hati, apalagi bagi kekuatan punggung dan kaki. Satu per satu node camp terlewati. Lebih pinteran dikit, satu porter buat bertiga untuk mengurangi beban punggung. Tapi setiap kali perjalanan menuju node camp berarti menghadapi ‘butterflies in my stomach’. Selalu ada kecemasan. Mendaki, jalan panjang di kebun yang panasnya bukan main, naik truk kaya jaman mahasiswa dulu aja. Gara-gara dawn chorus terpaksa bangun di pagi buta dan berjalan di kala hari masih gelap, di kala personil lain masih terlelap, dan bahkan hanya burung hantu serta hawk-cuckoo yang baru bersuara. Masih juga dapat ‘hadiah’ lihat dan foto anoa dari dekat tapi si anoa tak mau pergi dan menungguiku point count 10 menit. Labundo-bundo jadi rumah kedua dan menjadi centeng di warung Pak Mantan mulai jadi aktivitas hari-hari libur. Tanggal 17 Agustus 2005 adalah ‘hari kemerdekaan’ kami. Tapi ini cuma menjadi kelegaan yang tak sempat mampir…. (Atiek Widayati pers.comm). Karena masih ada tahun-tahun di hadapan kami. Di tahun ini juga menjejakkan kaki di Inggris. Mengacak-acak library dan online journal. Menjelajahi semua musium di Manchester. Lebaran jauh dari keluarga yang diawali dengan English breakfast dan makan siang KFC jauh-jauh di Newcastle. Tapi masih pula bersyukur dengan ketupat dan opor yang baru mampir di perut di malam hari.

2006

Haruskah aku kembali…? Do I have a choice? Tentu saja hidup ini selalu punya pilihan. Tapi kalau pilihannya tidak menyelesaikan phd dan menghadapi kemungkinan yang tidak pasti atau menyelesaikan phd dengan usaha dan menghadapi kemungkinan yang juga tidak pasti…. Well, we ended up in Lambusango again for the second time. Gak cukup sekali, tapi dua kali, musim hujan dan musim panas. Kembali lagi dari bawah, mengurus sendiri surat-surat, menghadapi birokrasi, mengurus keuangan dan panik menghadapi pengeluaran yang makin membengkak. Musim hujan…. Cari kos-kosan di Bau-bau, naik ojek ke mana-mana, buru-buru cuci baju dan berharap kering cepat di antara waktu istirahat yang cuma 1.5 hari, dan selalu stress cari makan. Nasib yang gak jauh berbeda di node camp. Bertujuh menjejaki kembali 6 node camp di Lambusango. Latihan nangkepin kupu-kupu dengan si kecil Umar di awal tahun di sekitar rumah jadi modal penting untuk belajar dan ambil data mahluk yang satu ini. Tenda baru dengan konstruksi yang aman dari hujan tapi framenya patah dan alasnya bolong-bolong dimakan semut. Kesal akan jalur transek yang minta ampun nyebelin dan kadang sudah tertutup oleh sesemakan. Masih juga harus bangun paling pagi untuk mengejar burung yang masih tetap malu-malu. Masak-masak jadi pelarian dan benar-benar menjadi survival tool. Arem-arem, gado-gado, panada, sampai pudding sempat menjadi top menu our wet season node camp. Musim panas… Ini berarti kepusingan menghadapi volunteer dan student dari manca Negara yang kadang gak cocok satu sama lain serta ‘butterflies in my stomach’ yang ternyata belum juga mau hilang. Kecemasan masih saja membayangi….

2007

Our last year in Buton. Tahun yang penuh air…. Ada hujan, banjir, dan lumpur. Perjalanan ke Anoa ditempuh 6 jam akibat tak putus terguyur hujan. Jas hujan tak lagi mampu membendung air yang tercurah, membasahi topi, rambut, mengaliri pakaian, hingga sepatu dan tiap kali harus berhenti untuk mengeluarkan air dari sepatu boot. Aman dari banjir Jakarta tapi jadi pengungsi korban banjir di Wahalaka. Tidur back-to-back dengan Diah di atas para-para beratap terpal yang bocor dan tampias. Pulang lebih cepat dari rencana akibat sungai Wahalaka yang diduga terus naik. Pindah ke Wabalamba dengan tenda naik di atas para-para. Dan di antara air dan hujan, masih pula bersyukur dengan satu petromaks yang masih menyala di malam hari. Karena ini berarti pakaian kering untuk jalan masuk hutan keesokan harinya meski segera akan basah pula. Di tahun ini pula berkesempatan tinggal di kompleks Keraton, enjoying the best view of Bau-bau. Tapi perjalanan mendekati akhir menikmati durian tidaklah makin mudah. Boot yang bocor, celana lapangan yang robek karena rotan serasa menggambarkan beratnya jalan yang harus dihadapi. Camp Lasolo yang berlumpur hingga sepatu tak lepas dari kaki dan menjadi seragam di camp, ke dapur… ke tenda… ke tempat makan. Be careful on what you wish for. Itu ungkapan yang ternyata betul sekali. Dari 6 node camp yang harus dilalui, kali ini cuma 3. Lebih mudah, lebih bosan karena selama 2 minggu harus menjalani transek yang sama berulang-ulang, tapi menghadapi kenyataan akan data yang kacau di tahun ini. Tapi bagaimanapun juga, this is the end of our journey in Lambusango to face many new journeys ahead. Lords of the nodes, the fellowship of Lambusango. I think we all deserve it.

fellow_of_lambusango.jpg

Ada seseorang pernah berkomentar di hadapan kami, sudah jauh-jauh ke Inggris kenapa pula masih mau bersusah-susah kembali ke hutan? Berkorban untuk mencapai sesuatu? Mungkin. Sudah kadung cinta dengan pekerjaan ini se-kesal2nya menjalani transek yang naik-turun? Bisa jadi. Tapi mau beli atau tanam sendiri pohonnya, menikmati durian memang harus berusaha dan bersyukur bahwa Tuhan memang maha adil meski kita tak pernah tahu duriannya enak atau tidak sebelum dibuka.