Menginjakkan kaki pertama kali di Bau-bau, ibukota Buton tahun 2005. Sama sekali gak terbayang sebelumnya. First impression… kotanya cukup rame apalagi mengingat kota ini adalah lokasi di mana Kesultanan Buton pernah ada dan mempunyai pelabuhan yang usianya sudah cukup lama yang menjadi jalur perdagangan rempah-rempah sejak abad ke 18. mesjid-buton.jpg

Jadi sekali lagi, first impression… kota yang kecil, cukup bersih, panas banget kalo musim kering, gak ada bioskop (duh!), kendaraan umum didominasi ojek yang rajin menjemput bola…eh..penumpang, signal handphone yang 5 km keluar kota udah hilang, tapi juga ada taxi yang bisa ditelpon. Oh iya, karena ramenya motor di kota ini maka banyak helm berkeliaran alias helm jadi  salah satu fashion di kota ini (banyak orang cowok-cewek berkeliaran dengan helm di kepalanya). Cukup nyaman juga sih tinggal di sini meskipun mal yang model ITC cuma satu. Mau pergi ke mana-mana cukup murah. Naik ojek paling cuma sekitar Rp. 2000-3000 tergantung jauhnya.  Barang keperluan bulanan bisa diperoleh di MGM department store (tapi jangan terlalu berharap deh dapet chitato…).

Nah, sekarang soal makan. Wah, kalo ini agak kerepotan juga soalnya variasinya gak terlalu banyak terutama kalo mau cari sayur. Mungkin yang bisa dijagokan dari Bau-bau adalah Ayam Goreng Silvana, soalnya tepungnya agak lain bumbunya dan paket ayam gorengnya sudah dapat nasi, sop kaldu, lalapan, dan sambel kecap. Lainnya yang cukup banyak di Bau-bau adalah restoran Pangkep yang menu utamanya sop saudara dan sop konro. Coto Makasar yang di dekat BNI juga lumayan dan bisa pilih mau daging saja atau campur jeroan. Kalau kangen cari makanan yang rasa Jawa bisa juga pilih Sri Solo (menu populernya dadar ati) yang jual bakso campur. Eh iya, baru inget. Di tahun kedua di Buton, kita menemukan tempat makan mie rebus/kuah Jawa yang baru buka selepas Magrib di perempatan Lembah Hijau. Yang jualan orang Jawa dan uniknya mie rebusnya dibuat dengan kuah kacang. Ini baru pas di lidah… . Tapi kalo mau cari peringkat yang mahalan silakan ke Restoran Betoambari. Sunu (kerapu) goreng penyet dan cumi masak kemanginya lumayan juga.

Tempat kongkow2 yang cukup oke di Bau-bau adalah pantai Kamali. Pantai ini baru direhab tahun 2005 oleh pemkot Bau-bau dan kalau malam minggu ramainya bukan main. Ditata rapi dengan tempat duduk/makan di sepanjang bibir pantai, jualannya terutama makanan ringan seperti pisang goreng yang dimakan dengan sambal, lopis, dll yang ditemani teh hangat atau saraba. Pantai ini juga dijadikan pusat kegiatan seni, dll. Sayangnya anak jalanannya kurang dikelola. Terlalu banyak dan kadang kurang sopan (suka jawil2 atau nungguin pisang goreng sisa dengan kepala pas di tepi meja).

Di tahun ketiga (2007), beruntung sekali dapat tempat tinggal di daerah Keraton. Ya, ini memang lokasi kesultanan Buton di masa lalu. Letaknya di puncak bukit (maklum, ini juga termasuk benteng yang konon terbesar di dunia) sehingga dari sini dapat dilihat kota Bau-bau dan laut di sekitarnya. meriam-benteng-bau-bau.jpgRumah-rumah di sini juga masih dan wajib mengikuti model rumah adatnya. Best view in town. Beberapa meriam peninggalan masa lalu masih ada. Mesjidnya pun yang dibangun sekitar 1700 an juga masih berdiri. Pemuka agama keraton yang konon jumlahnya harus 7 orang turun temurun biasanya datang shalat di masjid ini dengan jubah hijau khas Buton dan tongkat khususnya. Baru tau juga kalau islam lebih dahulu masuk Buton dibanding Kerajaan Bone http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Buton

Kalo mau tau sejarahnya, cek aja di sini http://history.melayuonline.com/?a=SlRWL29QTS9VenVwRnRCb20%3D=

labundo.jpgSayangnya tapi beruntung juga gak sering di Bau-bau (pusing cari makan), tapi lebih sering keliling Buton, tepatnya di hutan Lambusango atau di kampung Labundo-bundo. Dalam 3 tahun bolak-balik Buton, sampe gossip kampungpun ikutan tau. A very nice village, small, cuma sekitar 70 an KK yang sebagian besar related, tapi bersih dengan halaman yang cukup luas. Tapi jangan cari warung kopi ya di sini. Kalo mau ngopi ya di rumah penduduk. Soalnya yang ada cuma warung-warung yang menjual kebutuhan sehari-hari. Kalo dah tinggal di sini, rasanya waktu berjalan lebih lambat. Tapi ada kalanya juga waktu berjalan cepat, terutama di bulan-bulan Juli-Agustus saat volunteer2 Opwall tiba.

So, apa yang didapat selama di Buton? Haha, data yang jelas (kalo ini sih buat kepentingan sekolah). Lainnya? Kita menjejaki tempat-tempat baru dan mengisi berbagai ruang dalam hidup ini—budaya, manusia dengan berbagai perilakunya, hutan dan seisinya. Kita mencicipi hal-hal baru dan belajar dari siapapun, dari apapun…..