Siap bertahan dengan lauk indomie terus menerus? Silakan saja. Tetapi kalau bisa hidup lebih sehat dan makan lebih enak di lapangan kenapa enggak? Ini side storynya 3 tahun di Buton selain nyatetin burung dan ngeliatin kupu-kupu…..

Tiga tahun nih bolak balik Buton dan bete juga kalo bekal makan siang di lapangan tiap hari nasi goreng, mie goreng, dan telur dadar yang kalau diangkat ke arah langit, sinar matahari aja bisa tembus (padahal mendung). Ini belum ditambah menu makan malam yang sama terus tiap hari. Nah, inilah yang menjadi inspirasi untuk intervensi di dapur dan melakukan eksplorasi masak-memasak. Hasilnya? Ya menu-menu yang sebenarnya sangat biasa untuk dapur rumahan tapi sudah menjadi kemewahan tersendiri di lapangan mengingat kondisi bahan dan alat yang serba terbatas.

Btw, resep-resep di bawah sudah diuji di dapur ‘lapangan’ lho…. (catatan: tungku batu, kayu bakar)

Apa sih problem-problem di lapangan? Lokasi yang kadang jauh dari pemukiman jelas jadi masalah, terutama kalau kita harus tinggal berhari-hari di dalam hutan. Masalah pertama memang bahan baku yang dapat bertahan cukup lama. Pilihan memang terbatas, apalagi bila kita berada di pelosok yang memang variasi bahan pangan tidak banyak. Sedangkan makanan kaleng yang dapat dibawa juga terbatas karena beratnya. Sementara itu, kondisi di lapangan kadang memaksa kita menyewa orang lokal (pastinya cowok soalnya mana ada tukang masak perempuan yang mau ikutan jalan jauh masuk ke hutan) yang juga bertugas memasak. Ya, jadinya gak bisa terlalu berharap banyak deh kecuali ikutan turun ke dapur.

Bahan mentah standar yang dapat dibawa (ini memang tergantung pasar, jualannya apaan aja): ikan asin atau ikan garam, i kan teri, kentang, kol, buncis, telur

Makanan kaleng dan makan instan: corned beef, sarden, tuna, jagung manis, sosis, jamur, mie instan

Bumbu: garam, gula, royco, bawang merah, bawang putih, cabe, saos sambal, saos tomat, kecap

Dari bawaan standar ini, masih bisa jadi sop aneka sayur (cukup pakai bawang merah, bawang putih, garam, dan royco), dadar isi yang nama kerennya omelet (bisa diisi macam-macam seperti kol yang diiris tipis, bawang, dan kalau mau tambah enak, saos sarden boleh juga ditambahkan), nasi goreng ikan asin (bawang merah, bawang putih, cabe, ikan asin yang disuwir-suwir, royco atau bumbu mie instan yang tersisa), Ikan garam ‘Indonesia Raya’ (bawang merah, bawang putih, saos tomat, saos sambal, dan kecap), atau bakwan jagung sederhana (jagung manis, telur, royco atau bumbu indomie).

Dari pengalaman, sarden paling susah divariasi. Penyebabnya cuma satu, rasanya ya tetap sarden meskipun dimasak dengan segala macam cara. Jadi, kali ini yang divariasi adalah kuahnya. Dari kuah sarden ini masih bisa sedikit disulap menjadi dadar sarden dan puyunghai sarden

Dadar sarden

Bahan: kuah sarden, bawang merah, bawang putih, telur, garam, royco atau bumbu indomie

Cara masak: campur semua bahan jadi satu, goreng seperti membuat dadar.

Puyunghai sarden

Bahan puyunghai: kuah sarden, bawang merah, bawang putih, royco atau bumbu indomie, garam, kol diiris halus, bisa ditambah dengan sayur lain yang ada seperti buncis, wortel, yang juga diiris halus.

Bahan saos asam manis: bawang putih iris halus, wortel potong seperti korek api, gula, saos tomat, saos sambal bila suka

Cara masak:

1. Puyunghai: campur semua bahan jadi satu, masak seperti mebuat puyunghai (dadar tebal)

2. Saos asam manis: tumis bawang putih hingga harum, masukkan wortel, saos tomat, dan gula. Tambahkan air secukupnya, dan masak hingga wortel masak. JIka perlu tambahkan saos sambal bila suka.

Berlanjut ke kisah berikut………….