Dasar katanya adalah ‘kudab’. Dapat berbentuk dua kata yang berbeda, ‘kudap’ atau kudab’. Sebetulnya artinya kurang lebih sama, makan makanan ringan. Tetapi para kudaper dan kudaber memisahkannya dengan mengartikan kudap untuk makanan jenis snack seperti kacang, keripik, dsb. Sedangkan kudab dengan ‘b’ untuk makanan yang lebih berat tetapi tidak mengenyangkan seperti kue-kue basah, siomay, pempek, sampai ayam goreng pun bisa (dengan syarat tidak pakai nasi).

Beberapa ciri kudaber yang teramati… para kudaber tetap yakin pentingnya makan tepat waktu (artinya biarpun telah mengudap, tetapi jadwal makan utama tetap tidak ada yang dihilangkan), dalam perjalanan jauh selalu menyimpan snack dalam tas atau ranselnya dengan alasan untuk emergency, serta mata yang selalu bergerak lincah mencari tempat makan baru bila mengunjungi kota-kota lain. Tapi selain itu, ada juga kejadian lain seperti, penentuan mau makan siang apa sudah diputuskan dan dimaklumatkan 60 km dari lokasi makan siang (lokasi pemaklumatan di tengah hutan pula). Ada juga yang pada bulan puasa sekitar sejam sebelum buka puasa menunjukkan kekaguman berlebihan pada ayam yang tertata rapih di rumah makan nasi uduk. Atau buah cherry penghias minuman dimakan dengan sepenuh hati dan perasaan. Dan seperti yang tadi telah disebut, menjadikan ayam goreng menjadi menu kudaban (ingat ini tidak termasuk makan siang).

Dari hasil petualangan kuliner Margonda, ada beberapa pelajaran yang patut dicermati para kudaber. Ternyata karbohidrat tetap perlu! Pasokan karbohidrat yang kurang ternyata mempengaruhi pasokan oksigen di otak, akibatnya omongan dan kelakuan menjadi melantur ke mana-mana. Haha, tapi itu juga belum dibuktikan secara signikan sih karena ada indikasi juga bahwa kelakuan ini dapat disebabkan karena berkumpulnya 4 orang ceweq yang jarang ketemu karena kesibukan di belahan dunia lain atau belahan Indonesia lain. Tapi bagaimanapun kami yakin akan pentingnya keseimbangan karbohidrat , protein, dsb dalam menu makanan. Ingat, kesehatan adalah nomer satu!