Mengamati ekologi komunitas burung di Sulawesi ternyata tidak semudah di Sumatra atau Kalimantan. Kalau di dua pulau besar tersebut, masa aktifnya burung-burung cukup lama. Mulai jam 6 pagi hingga jam 10 pagi, masih cukup ramai burung-burung berkicau. Nah, kondisi ini ternyata tidak sama dengan Sulawesi.

p8160104_editcrop.jpg

Mengapa? Pada beberapa daerah di Sulawesi, masa burung-burung ramai berkicau ternyata hanya sebentar. Jam 8 pagi pun kicauan burung mulai sepi. Komunitas burung Sulawesi memang berbeda dengan saudara-saudaranya di bagian barat Wallacea. Sulawesi dilimpahi jenis burung endemik yang begitu tinggi hingga 33%. Bandingkan dengan Kalimantan yang hanya 10%. Tetapi menariknya, persentase jenis burung yang menempati lantai hutan jauh lebih sedikit (understory birds). Contohnya aja, jenis burung bulbul yang cuma 3 species padahal tetangganya Kalimantan mencapai 24 jenis. Atau juga jenis burung dari keluarga Timaliidae (babbler) yang juga hanya 3 jenis tetapi sangat melimpah di Sumatra (42 jenis) dan Kalimantan (36 jenis).

Nah, perbedaan ini membuat prinsip-prinsip ekologi komunitas daerah Sundaland tidak begitu saja dapat diterapkan di daerah Sulawesi dan Wallacea. Apalagi kalau berurusan dengan pemilihan jenis indikator perubahan lingkungan. Beberapa penelitian di kawasan Sundaland telah berhasil mengidentifikasi kelompok burung yang sensitif terhadap logging dan fragmentasi hutan. Jenis-jenis yang hidup di lantai hutan biasanya sensitif terhadap logging. Juga jenis burung yang berjelajah luas dan bersarang di lubang pohon bikinan burung lain seperti rangkong. Dengan hanya sedikitnya jenis-jenis seperti ini di Sulawesi, tentunya pemilihan spesies indikator harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan di Sulawesi. Mau tau lebih banyak? Tunggu tanggal mainnya!