Siamang-siamang yang makan buah dan daun pasti sehat. Burung rangkong pun makan buah, dan mengatur kebutuhan tubuhnya dengan sesekali makan hewan-hewan kecil lainnya pada saat musim berbiak. Tak lain sebagai pasokan protein bagi calon maupun rangkong-rangkong kecil yang lahir. Setiap mahluk hidup telah diatur agar mempunyai sistem metabolisme sedemikian rupa untuk bertahan hidup. Manusia juga begitu. Tetapi kelebihan akal yang dipunyai seringkali juga membuat sistem tubuhnya berjalan tak semestinya. Lagi
Hidup seimbang = sistem alam bekerja semestinya
Juni 13, 2008
Culinary adventures, Day-to-day, Science & Nature, Science of cooking 7 Komentar
‘Mango sorbet’ di musim mangga
Desember 17, 2007
Culinary adventures, Daily treat, Day-to-day, Science of cooking, wildlife ecology 3 Komentar
Bagus juga kalau kebetulan punya pohon mangga harum manis atau Indramayu. Tapi kalau di halaman adanya mangga apel? Betul. Disebut mangga apel karena bentuknya yang mirip apel, bulat. Pohonnya tidak tinggi dan buahnya berlimpah saat tiba musimnya, seperti bulan Desember ini. Menurut yang menanam, jika dalam satu untaian buahnya dikurangi, maka buah yang tersisa dapat menjadi jauh lebih besar. Duh, sayangnya rasanya segitu-gitu aja. Banyak orang menganggap mangga apel cuma bagus untuk menjadi pohon peneduh saja. Buahnya dengan daging buah yang kekuningan bisa cukup manis jika matang betul. Tetapi rasanya seperti peralihan antara kweni. Tidak terlalu tepat untuk dimakan mentah tetapi cukup lumayan jika ditambah gula dan dibuat jus atau punch. Bosan juga lama-lama. Padahal banyak orang sudah ikut mendapat pelimpahannya.

Terinspirasi dari es krim bebas lemak, sorbet menjadi salah bentuk aplikasi dessert dari mangga apel ini. Kata sorbet sendiri dianggap berasal dari sherbet, minuman dingin tradisional dari Timur Tengah. Dalam perkembangannya, sherbet ini dimodifikasi menjadi sorbet yaitu frozen fruit dessert yang dibuat dari buah yang dihaluskan dengan tambahan gula atau madu yang kemudian dibekukan. Ya betul, dengan kata lain jus buah beku. Jadi, sorbet ini bebas dari produk hewan seperti susu dan telur. Lagi
Jika tubuh kepingin coklat
November 28, 2007
Culinary adventures, Day-to-day, Science of cooking 4 Komentar
Craving for chocolate? Gimana jika sewaktu-waktu otak mengirimkan pesan akan kebutuhan coklat…banget? Konon kabarnya, pada perempuan kebutuhan coklat ini gabungan antara kultur dan kandungan kimia (http://archives.cnn.com/2000/HEALTH/diet.fitness/02/02/chocolate.wmd/).
Nisa dan tantenya punya kegemaran yang sama. Kalau ke supermarket selalu mengunjungi gerai makanan dari susu olahan dan mencari ‘chocolate pudding’. Puding coklat yang ini tidak termasuk puding coklat bertekstur kaku seperti yang dikenal di Indonesia (yang dimakan dengan vla), tapi cenderung bertekstur seperti emulsi. Ini karena tidak ada kandungan agar2 di dalamnya. Kekentalannya diperoleh dari tepung maizena yang memang fungsinya sebagai agen pengental jika suhu meningkat melalui pemanasan. Jadi, di antara browsing scientific journal dan resep, yang didapat ternyata malah resep ‘chocolate pudding’ ini. Rasa dan warna coklatnya diperoleh dari Dutch processed cocoa (bubuk cacao) dan chocolate chips. Btw, Dutch processed cocoa itu biji cacao yg bersifat asam dimasak dengan campuran alkali sehingga sifatnya menjadi netral, dan berwarna coklat kemerahan. Akibat proses ini, bubuk cacao menjadi lebih mudah larut dan rasanya tidak terlalu pahit.

Gampang banget buatnya. Campur gula, cacao, tepung maizena, dan garam di panci. Aduk rata sambil dicampur dengan susu. Masak sambil diaduk (ingat, susu yang dimasak di atas api harus terus diaduk supaya tidak ‘pecah’) hingga kental. Sementara itu, kocok telur sebentar di wadah tahan panas. Masukkan cairan susu yang masih panas ke dalam kocokan telur sambil diaduk. Masukkan chocolate chips dan aduk hingga leleh. Masukkan ke dalam cup atau wadah2 berukuran kecil, tutup dengan plastic wrap. Ini untuk mencegah timbulnya lapisan tebal di bagian permukaannya pada saat adonan dingin. Dinginkan di lemari es.
Rasa ‘rich-chocolate’ dari pudding ini sebenernya berasal dari chocolate chipsnya, sementara rasa cairan susu+cacao sendiri tak lebih seperti minum susu coklat. Resep ini sendiri memakai’ounce’ untuk mengukur kebutuhan chocolate chipsnya. Tapi repot juga musti kalkulasi ounces ke dalam gram berhubung Indonesia pakai sistem metric yang berbeda dengan Amerika. Ada juga sih beberapa situs metric calculator kalau mau tepat banget. Tapi kalau saya sendiri banyaknya chocolate chips tidak tergantung resep, tapi tergantung rasa. Masukkan chocolate chipsnya sedikit2 sambil sesekali dirasakan hingga rasanya coklatnya sudah pas di lidah kita.
Jadi daripada susah2 cari chocolate pudding di supermarket, mending buat sendiri aja. Cocok banget deh untuk memenuhi chocolate intake di kala stress melanda















Recent Comments