Udang dan udang
Ada apa di balik sebuah nama? Ini ada dua jenis udang berbeda morfologi. Yang satu bisa terbang dan lainnya di dalam laut. Dua alam yang bersentuhan tetapi tak saling memberi kesempatan hidup.
Udang merah Sulawesi (Ceyx fallax) adalah burung kecil berparuh besar penghuni hutan-hutan Sulawesi. Jarang sekali terlihat tetapi dalam kesempatan tertentu, si udang yang ini sesekali dapat ditemukan tidur di pepohonan tepi sungai. Saudara semarganya, Udang punggung-merah (Ceyx rufidorsa) menghuni hutan-hutan di Sumatra, Kalimantan, Jawa, hingga Bali. Di buku-buku panduan lapangan untuk burung, keduanya memang diberi nama Udang tanpa embel-embel burung di depannya. Beruntung saya dan lingkungan tempat saya bekerja lebih suka menyebutnya dengan nama latin, sistem penamaan yang diciptakan Linnaeus, sehingga tak ada yang salah mengerti antara kedua udang berbeda morfologi dan habitat tadi. Repot kan kalau jalan-jalan di sungai dan salah satu menunjuk si Udang punggung-merah di atas pohon, sementara yang lain mencari-cari yang dimaksud di bawah bebatuan sungai.
Ini barangkali sedikit dampak kekurang populeran bagi satwa yang ‘tidak seksi’ ini, alias jarang dilihat, tidak menjadi komoditi masyarakat umum, dan tak punya status apapun (tidak terancam, tampilan atau suara tak menarik) sehingga mendapat nama pemberian yang hanya segelintir orang yang tahu. Coba bandingkan dengan si udang satunya. Mau jenis apapun, dari udang jerbung atau udang windu, atau sudah menjadi ‘Penang mee udang’ ya tetap udang yang dikenal semua orang.
Hehe, jadi saat ini saya cukup berkonsentrasi dengan ‘Penang mee udang’ saya. Kalau dari namanya, tentunya dapat diduga jenis makanan ini. Ini gara-gara mampir di Citos dan pesan menu ini. Kenapa saya tertarik hingga cari resepnya di internet? Ya karena si udang yang ’seksi’ ini yang menjadi penentu rasa kuahnya serta tambahan kangkung di dalamnya. Lengkaplah, ada mie sebagai karbohidrat, ada udang dan telur rebus sebagai protein, dan ada sayurannya.
Resepnya saya ambil di sini, yang takaran dan campurannya diubah sesuka hati saya. Kuahnya berasal dari kepala udang yang direbus dan dicampur ulekan cabe, bawang merah, dan bawang putih, serta tambahan gula merah, garam, dan kecap ikan. Isinya tentu saja mie kuning, bihun, kangkung rebus, taoge, telur rebus, dan udang. Daripada mikirin kedua udang tadi, lebih baik makan saja dulu….
Oh ya, jangan heran lihat porsi saya yang kecil. Kuantitas gak terlalu berarti buat saya. Yang penting kualitas
Dua udang yang berbeda, hanya satu yang mampir di perut.
4 comments so far
Leave a reply














He he he, spesies seksi.
Satu istilah asyik lagi, setelah istilah selebritis dan non-selebritis spesies.
Sudah coba omelet udang telur? Udang dihancurkan, campur telur, goreng. Mantap..
Jadi laper euy, hehehehe
Betul, di indonesia ada makanan2 enak sekali tapi makanan paling enak itu udang, apa lagi murah.
Udang saus mantega is the beeeeeeeeeesssssstttt.
Mana tahan!!!!!
Salam from Barcelona
Postingan campuran (species + kuliner).
cemara udang