makanan siamangSiamang-siamang yang makan buah dan daun pasti sehat. Burung rangkong pun makan buah, dan mengatur kebutuhan tubuhnya dengan sesekali makan hewan-hewan kecil lainnya pada saat musim berbiak. Tak lain sebagai pasokan protein bagi calon maupun rangkong-rangkong kecil yang lahir. Setiap mahluk hidup telah diatur agar mempunyai sistem metabolisme sedemikian rupa untuk bertahan hidup. Manusia juga begitu. Tetapi kelebihan akal yang dipunyai seringkali juga membuat sistem tubuhnya berjalan tak semestinya.

Serat selulosa dari tumbuhan adalah yang paling sulit dicerna. Pada hewan-hewan primata, pencernaannya dibantu oleh berkembangnya caecum. Proporsi usus kecil dan usus besar pada primata dan manusia ternyata juga berbeda. Manusia memperlihatkan proporsi usus kecil yang lebih besar dibanding misalnya orang utan, sementara proporsi usus besar terjadi kebalikan. Kompleksitas variasi makanan pada manusia diduga turut mempengaruhi perubahan proporsi kedua jenis usus ini. Hehe, kaum vegan tentu saja membela habis-habisan sistem pencernaan kita yang dianggap adalah bentuk adaptasi terhadap jenis makanan berserat alias tumbuhan tadi (dan tentu saja jarang ada omnivore yang mau bersusah payah membuat kaum herbivore berpindah prinsip). Dan, saya pun tak mau berurusan dengan prinsip makan ini dan itu.

Secara garis besar, sistem pencernaan manusia memberi kesempatan bagi variasi jenis makanan yang cukup tinggi. Siamang di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, misalnya, sedikitnya punya 100 jenis tumbuhan yang daun, bunga, atau buahnya dapat dimakan. Tingkat variasi tentu saja sangat tergantung di mana suatu kelompok siamang berada dan luas daerah jelajahnya. Sementara daerah jelajah manusia dapat seluas bumi ini. Suguhan french fries yang digoreng dalam minyak banyak adalah makanan umum di Amerika, sementara di India banyak menu dimasak dengan yoghurt dan bumbu-bumbu yang sangat kuat, atau keju yang berlimpah di masakan Mexico. Belum lagi negeri sendiri yang kaya akan aneka gorengan dan jajanan murah meriah. Duh, bikin air liur menetes saja……

makanan manusia

Mengikuti ‘kelebihan’ akal (atau nafsu ya..) ini memang enak. Kecuali menjaga porsi nasi dengan cukup ketat, sebelum tahun 2005 saya menjalani hidup berkantor 9-to-5, masih sesekali ke lapangan (yang dianggap sebagai satu-satunya olah raga), dengan sengaja makan pagi bubur ayam atau lontong sayur di Taman Kencana, dan tambahan-tambahan jajanan sore mie bakso atau tahu sumedang di KRL, plus sesekali makan malam di Citos. Dan dua tahun lalu, saya didakwa sedikit kaya akan kolesterol. Tubuh manusia memang berbeda-beda dalam kapasitas dan kemampuannya bertahan mengalami tekanan. Seorang yang tidak merokok, skala bepergian yang sangat tinggi, masih sesekali jalan kaki di hari minggu, tetapi tetap menikmati makannya mengalami Myocardial Infarction atau serangan jantung akibat pasokan darah ke jantung terhenti begitu saja. Seorang yang lain, yang berolahraga low-impact exercise cukup teratur dan diet yang disiplin, masih pula mengalami penyumbatan di jantungnya. Keduanya laki-laki…..

Kesimpulannya, kurus atau gemuk (meski kurusan jauh lebih baik), semua orang bisa kelebihan kolesterol dan nasib-nasiban juga sebab ini juga bersifat ‘diturunkan’. Kadar kolesterol juga meningkat sesuai dengan umur (hmmmm, jadi berhatilah-hatilah yang menginjak ‘over 35′). Pada tingkat umur yang sama, para lelaki cenderung mempunyai tingkat kolesterol yang lebih tinggi. Kolesterol sih memang sudah ada dalam darah kita dan penting juga untuk pembentukan membran sel. Namun, substansi ini tidak dapat larut dalam darah dan harus diangkut oleh lipoprotein. Nah, di sinilah istilah LDL dan HDL bermain. LDL (low density lipoprotein) atau yang dikenal sebagai ‘kolesterol jahat’ bertugas mengangkut kolesterol ke bagian jantung. Sementara itu, HDL (high density lipoprotein), si ‘kolesterol baik’ mengangkutnya ke bagian tubuh yang lain dan berakhir di hati. Jadi, terbayang kan jika kolesterol terlalu banyak sedangkan LDL terlalu sedikit, maka akan terjadi penyumbatan pembuluh darah di bagian jantung.  Kalau jantung mendadak berhenti, mau dikata apa?

Makan enak adalah kenikmatan. Namun, proporsi kolesterol, LDL, dan HDL sangat ditentukan oleh makanan, terutama makanan yang mengandung lemak jenuh yang menginduksi kolesterol dan LDL. Lemak jenuh ini ada di daging (sapi, kambing), keju, susu, kuning telur, dan minyak goreng (kelapa dan kelapa sawit). Duh, tapi rasanya susah ya membayangkan hidup tanpa tahu dan pisang goreng. Eh, tapi jangan kecil hati dulu. Kita masih tetap bisa makan yang enak-enak dengan merenovasi resep. Dari buku “Renovasi resep: masakan selera internasional” ini, saya baru tahu bahwa banyak trik-trik untuk mengurangi konsumsi lemak jenuh dan kolesterol ke dalam tubuh kita. Renovasi tanpa mengorbankan kenikmatan karena makanan tak selalu harus direbus. Misalnya, menggunakan wajan anti lengket dengan minyak sedikit untuk menggoreng fried chicken telah mampu mengurangi hingga 20 g lemak jenuh dan menurunkan hingga 200 mg kolesterol. Rasa tak berubah. Brownies juga masih tetap dapat dinikmati dengan mengubah proporsi minyak dan telur.

Setelah dua tahun lalu dicap sedikit kaya kolesterol, belakangan ternyata kolesterol saya turun signifikan. Selama dua tahun belakangan ini, tanpa tujuan diet, pola hidup saya berubah. Tentu saja ini karena berhubungan dengan waktu saya yang lebih banyak dihabiskan di lapangan (yang berarti olah raga teratur jalan kaki naik-turun bukit), lebih banyak melakukan low-impact exercise, serta tidak lagi berkantor resmi (sehingga pola konsumsi pun turut berubah akibat makan teratur dan kurangnya jajan). Saya tentu saja masih tetap makan ini-itu, tetapi tentu saja dengan penuh kesadaran kontrol.

Pencernaan manusia memang unik dan mampu menerima tingkat variasi makanan yang tinggi. Tetapi biar bagaimanapun, janganlah ‘kelebihan’ ber-akal (yang kadang dikuasai oleh nafsu) kita memberi beban yang terlalu berat dan tak seimbang baginya. “Let the nature works”. Tubuh kita adalah juga suatu sistem alam. Biarkanlah ia bekerja dengan semestinya……