Ode yang tak selesai…
Aku kehilangan kakakku, mas Adi, di hari minggu, di pagi hari. Aku kehilangan seorang yang dulu mengantarkanku ke sekolah semasa SD dengan motornya. Aku kehilangan seseorang yang juga masih mengendarai motornya meski mobil keduanya baru saja ia miliki. Seorang fisikawan yang tak pernah membantuku dalam fisika. Tak lain karena ia selama 8 tahun menyelesaikan sekolahnya di Amerika dan tak sekalipun pulang ke Indonesia karena orang tua yang tak menginginkan ia menghamburkan tabungannya hanya untuk berkangen-kangenan. Prinsip dari orangtua yang mengajarkan kerja keras dan tak bersenang-senang sebelum selesai, termasuk juga mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di negeri orang (yang tak hanya keilmuan tetapi juga budaya) tampaknya ia terapkan dalam kehidupannya. Barangkali dari ia juga yang membuat ’sekolah lagi’ di keluarga ini adalah hal biasa.
Papa-Mamanya kehilangan anaknya, yang seringkali berkunjung di pagi hari dengan motornya sebelum menuju ke kampus. Kehilangan anak yang seringkali menjadi imam shalat tarawih di keluarga, yang tak pernah enggan mencicipi masakan yang ada di rumah, yang juga tak enggan bercerita seluruh aspek dalam hidupnya. Adik-adiknya kehilangan ia, yang tak enggan menyanyakan kabar, dan mendengarkan masalah-masalah yang kami hadapi.
Keluarganya kehilangan seorang Papa yang menjadi tempat bertanya tentang geografi, sejarah dunia, matematika, hingga musik klasik sama seperti ia dulu mengajariku.
Murid-muridnya kehilangan ia. Dr. Yohanes Surya berkata bahwa bangsa ini kehilangan dirinya, seorang Dr. Rachmat Widodo Adi. Sedikit tentang almarhum telah diposting di sini dan di sini
Ode ini, doa ini tak kunjung selesai. Karena tenggorokanku terasa tercekat dan air mata tak hendak lelah mengalir. Almarhum berangkat begitu cepat, tapi aku yakin ia telah menitipkan bekal yang cukup bagi keluarganya, bagi kita semua. Ia telah memberikan kehidupan yang bermakna bagi keluarganya. Postingannya di beberapa milis kudengar selalu berani, sistematis dan reasonable. Almarhum adalah seorang pramuka sejati, yang memiliki loyalitas tinggi, keteguhan dan integritas yang kadang terlalu keras, cakupan pemikiran yang begitu luas seluas lautan yang tak berbatas, dan tak pernah enggan untuk berhenti belajar. Terlalu singkat rasanya untuk tahu siapa almarhum sebenarnya. Tapi cukup untuk membuatku merasa, I haven’t done anything to this human race… Have we all done that?
9 comments so far
Leave a reply












Mas Adi akan selalu hidup dalam kenangan, dan odenya akan terus diingat oleh keluarga, teman dan sahabat. Doa terdalam untuk Mas Adi dan semua keluarga yang ditinggalkan.
Saya tidak pernah kenal Mas Adi dengan dekat, tapi kehilangan ini, terasa seperti kehilangan kakak sendiri….
its me, the anonymous.
semoga arwah beliau diterima di sisiNya
Amin….
semua kembali padaNYA
Dear Dek Noon,
I think we are all missing him terribly. Especially for relatives or family who live so far away that can not be there for you and all his family.
But we will always remembered him, as a person who always helping, gentle, funny and loved his food ( i mean any food) and sharing his knowledge to others. And he always be in my mind, i can remember how he asked us (his cousins) how many plates had we been eating. And guess what he was the only one eating more than any of us.
Please be strong and Insya Allah, Mas Adi is in a good place, but i know for sure he is.
Thanks mbak. It was hard to loose someone very close to us. He left a good memories and there were many things that we can always learn from him.
Nurul,
Aku sangat kaget dapet sms dari Atri tentang Pak Rahmat. Yg aku inget dr beliau adalah ceplas-ceplos nya, kadang suka bikin kaget
He will always be remembered as someone who speaks their mind…