Benih baru kehidupan
Pada masa-masa sekarang ini, entah kenapa saya menjadi lebih menyukai perjalanan-perjalanan terkait sejarah. Museum kali ini jauh lebih menarik dibanding mengunjungi aneka tipe hutan di dunia. Barangkali karena yang terakhir terlalu berkaitan dengan pekerjaan. Sejarah dan museum membuat saya berpikir tentang bagaimana saya ada di dunia ini, relasi saya terhadap bumi dan Penciptanya. Mulai dari tanah suci hingga Manchester, hal itu menjadi magnet yang cukup kuat bagi saya untuk melakukan refleksi. Baca selebihnya »
Rumput tetangga lebih hijau?
Bertahun-tahun jalinan liana yang ditenggeri si burung tepekoh jambul (Hemiprocne comata) selalu menjadi pemandangan hari-hari di Way Canguk. Pun selama beberapa tahun ladang-ladang di desa Sumbersari, Buton, yang panas dan luas menjadi jalur utama yang harus dilalui untuk menuju camp Lasolo yang berlumpur dan licin di musim hujan. Baca selebihnya »
Masa kecil cerminan hari kini?
“It is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change.” (Charles Darwin)
Saya tak hendak berbicara soal teori evolusi. Tapi tak pelak menjadi banyak berkaca pada beberapa pertemuan yang saya ikuti akhir-akhir ini baik itu formal maupun tidak formal. Yang formal asalnya dari suatu seminar memperingati 200 tahun eyang Charles Darwin. Kekaguman saya meningkat pada para filosof di seminar ini yang memandang teori ini sebagai suatu perayaan akan keunggulan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ditambah proses penalaran induktifnya Francis Bacon, tidakkah kita melihat suatu perkembangan pada diri manusia terutama pada pemikiran dan budaya? Baca selebihnya »
Sekolahku, penjelajahanku….
Di awal 70-an, perguruan ini membangun Taman Kanak-Kanak pertama di kawasan Cempaka Putih, suatu kawasan pemukiman yang tengah berkembang. Di kawasan ini aku dilahirkan dan dibesarkan, belajar menaiki sepeda pertama kali hingga berhadapan dengan banjir pertama kali. Tetapi di sekolahku inilah aku mulai ‘menjelajah dunia’. Baca selebihnya »
Wallace, naturalis yang rendah hati
Alfred Russel Wallace…. Pada umur yg sama dengan saya saat ini, Wallace telah menyelesaikan penjelajahannya di Malay Archipelago selama 8 tahun. Pulang ke Inggris membawa beratus-ratus specimen hewan dan tumbuhan dan menangkap fenomena keunikan flora fauna di kepulauan ini.
Dibandingkan Charles Darwin yang telah dikenal di dunia persilatan para naturalist, Wallace saat itu tak ada apa-apanya. Sesaat setelah terserang malaria, Wallace mengirimkan buah pikirannya akan kesintasan yang terbugar alias survival of the fittest pada Darwin, yang ujung-ujungnya memacu Darwin untuk mempublikasikan “the Origin of Species“. Ya, Wallace yang 14 tahun lebih muda, masih terlalu rendah hati. Baca selebihnya »
Komentar (12)










