Mari beramal untuk alam…

3 Komentar

Hutan terdegradasi tidak melulu perlu diubah menjadi sawah….

011312_0552_Foodsecurit1.jpgSeluruh bagian kehidupan manusia mempunyai interkonektivitas. Yang satu terkait dengan yang lain. Mari kita lihat sepenggal saja…. Kehadiran satwa polinator membantu menyerbuki bunga hingga menjadi buah, menjadi mak comblang antara putik dan benang sari sehingga kita dapat menikmati kopi, durian lokal, atau sambel goreng ati yang dimasak dengan pete.  Kopi diserbuki lebah, sementara duren dan petai diserbuki kelelawar.  Ini semua adalah karunia Tuhan. Subhanallah…. Para satwa ini seperti lebah, kupu-kupu, kelelawar, dan burung adalah provision dari ecosystem services, penyedia layanan lingkungan.  Adanya mereka membantu memperbaiki hasil panen petani. Nah, namun hutan punya peran pula. Satwa-satwa ini lebih suka tinggal di hutan. Riset juga mengatakan bahwa semakin dekat jarak kebun dengan hutan, makin baik produksi panen petani. Makin dekat dengan hutan, makin banyak pula jenis satwa polinator yang hadir. Selengkapnya

Program Training Mitigasi Perubahan Iklim dan Pembiayaan Hutan Berkelanjutan Inovatif

Tinggalkan komentar

Yuk ikutan! Menarik nih. Angkatan pertama sudah dilahirkan dari Program Pelatihan kerjasama antara Center for Environment, Economy, and Society, Columbia University dan Research Center for Climate Change, Universitas Indonesia ini. Ingin tahu tentang pelatihan angkatan pertama? Silakan lihat di Ruang Perubahan

Suasana pelatihan yang sarat diskusi dan kerja kelompok

Suasana pelatihan yang sarat diskusi dan kerja kelompok

Berikut info lengkapnya…. Selengkapnya

“Food security” dan alih menu non-beras

6 Komentar

Ini gara-gara tadi ikutan mendengarkan para mahasiswa mata kuliah biogeografi mempresentasikan proyek kecilnya. Salah satunya bicara tentang food security atau ketahanan pangan. Menarik, karena kelompok ini tak lupa menyediakan contoh makanan non-beras hasil kreasi mereka sendiri.

Ibu saya beberapa hari lalu mengeluh kalau harga beras sudah naik dari biasanya. Pun harga terigu ditengarai juga akan naik. Ketahanan pangan memang sangat terkait konservasi hingga perubahan iklim, dengan isu utama yaitu sustainability. Tersedia selalu tanpa terpengaruh krisis ekonomi dan perubahan iklim. Isu ini sangat penting bagi Indonesia yang makanan pokok utamanya adalah beras Selengkapnya

Riset satwa dan perubahan iklim

3 Komentar

Perubahan iklim bisa dianggap sebagai isu baru dan lama. Isu lama karena yang namanya iklim pasti terkait dalam suatu siklus, artinya dari ice age dulu pun sudah ada perubahan iklim. Isu baru karena topic ini serasa baru terus. Yah karena memang belum ada ilmu khusus tentang perubahan iklim. Artinya, para peneliti berlatar belakang apapun mau tidak mau harus belajar dan mendalami isu ini. Barangkali baru beberapa tahun belakangan ini ada beberapa institusi pendidikan yang membuka jurusan atau keminatan khusus tentang perubahan iklim.

Itu secara umum. Belum lagi jika bicara khusus tentang Indonesia. Oh ya, seperti biasa dalam kasus saya tentunya terkait wildlife alias satwa liar dan habitatnya Selengkapnya

Eksplorasi kuliner si kecil

5 Komentar

Perjalanan kuliner saya boleh dianggap stagnan untuk diri sendiri sejak adanya si kecil. Tetapi untungnya eksplorasi ini merambah ke diversifikasi menu makanan si kunyil ini tentu saja dengan tujuan supaya si kunyil yang ini mau makan. Dengan umur sekarang 9 bulan, si anak kecil (oh ya, soalnya dia kadang seperti merasa bukan bayi lagi) ini sudah punya keinginan dan preferensi rasa. Tetapi cukup lega juga bahwa di umur 9 bulan, bahan makanan yang diperbolehka sudah jauh lebih bervariasi. Untungnya juga sebagai lulusan field culinary school Lampung hingga Buton Selengkapnya

Indahnya keajaiban 1

7 Komentar

Sungguh suatu karunia terbesar, suatu keajaiban merasakan adanya kehidupan dalam kehidupan, adanya kehidupan dalam rahim. Perasaan campur aduk menyelimuti, gado-gado informasi membanjir, dan banyaknya perhatian yang mampir pada si empunya perut yang makin membesar ini. Bekerja pada bidang konservasi yang banyak terkait dengan satwa menimbulkan banyak pemikiran. Yang cukup unik adalah seringkali jadi pembanding dengan pengalaman teman-teman yang bermain dengan satwa. “Kalo di sapi, bla….bla….bla…..” “Kalau di kelelawar, bayinya pun melakukan rooting instinct mencari puting susu ibunya”.

Ya, kehidupan dalam kehidupan membuat kita belajar kembali akan natural history dari kita sendiri sebagai manusia Selengkapnya

Rangkong Sulawesi, masih dapatkah memilih tempat hidup?

5 Komentar

Kembali lagi ke Sulawesi… Tetapi kali ini sedikit menjauh dari daratan utama, yaitu Pulau Butung alias Buton. Saat menginjak pulau ini pertama kali di ibukotanya Bau-bau, saya segera merasakan jejak-jejak historis yang telah dialami kepulauan ini. Kota yang begitu ramai, simpang-siur kendaraan bermotor roda dua, angkot, hingga taxi, rasanya cukup menakjubkan untuk kota sekecil ini. Buton melalui Kesultanannya memang telah dikenal dalam sejarah bangsa kita sejak abad ke 13, bahkan sejak jaman Kerajaan Majapahit dan tercatat dalam naskah Negarakertagamanya Mpu Prapanca.

Salah satu hutan yang relatif tidak terganggu

Maka tak heran pula jika hutan-hutan pulau ini telah mendapat sentuhan manusia sejak lama, seperti yang dialami hutan Lambusango (35.000 ha) di bagian tengah pulau ini. Bagian hutan yang terletak di bagian selatan, misalnya seakan telah menjadi lokasi utama para pencari rotan dan pencari kayu. Di salah satu lokasi ini misalnya, ada banyak simpangan jalan-jalan setapak dengan potongan rotan atau kayu yang diletakkan melintang jalan setapak, untuk mempermudah para perotan menarik kumpulan rotannya keluar hutan. Sementara di bagian hutan lainnya, air sungai terasa berserbuk kayu sebagai akibat dari kayu-kayu yang dialirkan melalui sungai. Sentuhan-sentuhan manusia ini tercermin dari struktur hutannya. Hutan-hutan dengan gangguan tinggi di Lambusango dicirikan oleh dengan tajuk yang jauh lebih terbuka sementara pada hutan dengan gangguan yang rendah, lebih dipenuhi oleh tumbuhan seperti pandan, palem, dan paku-pakuan. Hutan dengan gangguan rendah juga cenderung terletak di daerah yang berundak-undak. Tingkat gangguan ini ternyata tak membedakan status hutannya yang sebagian berstatus kawasan konservasi, sementara sebagian lainnya berstatus hutan produksi. Selengkapnya

Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.